Jumat, 12 November 2010

Kepemimpinan dari Paulus (I)

PELAJARAN KEPEMIM WAWASAN KEPEMIMPINAN DARI RASUL PAULUS

Paulus menuliskan surat-suratnya kepada kelompok-kelompok kecil
orang yang dikenalnya secara pribadi, yaitu Timotius, Titus, dan
Filemon. Paulus juga menulis surat-surat kepada kelompok-kelompok
besar pembaca, seperti jemaat di Roma, Korintus, dan Galatia.
Surat-surat ini memberikan wawasan tentang mengapa pemimpin itu ada.
Dia juga menambahkan wawasan tentang pengetahuan, keahlian, dan
kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan pemimpin-pemimpin saat ini.

Dalam setiap surat, Paulus mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan
dalam hidup ini, seperti dosa (Roma 3:9), iman (Roma 3:22),
pernikahan (Roma 7:2; 1 Korintus 7), kesatuan (1 Korintus 1:10),
karunia-karunia rohani (1 Korintus 12), dan kemerdekaan (Galatia
5:17). Dengan mempelajari surat-surat Paulus kepada Roma, Korintus,
Galatia, Tesalonika dan Filemon, kita akan melihat satu rangkaian
karakteristik yang dipandang Paulus penting dalam pertumbuhan para
pemimpin Kristen.

Ciri-ciri kepemimpinan yang efektif tidak kalah ragam dan jumlahnya
dengan pikiran dan hati manusia sendiri. Tidak akan ada daftar yang
paling lengkap, dan tidak ada suatu daftar yang paling cocok untuk
Anda. Kelima karakteristik berikut ini juga tidak lengkap, namun
kelima hal ini bisa menyampaikan kekuatan dan janji yang ditawarkan
oleh Paulus: rasa belas kasihan, kesadaran diri, kebenaran oleh
iman, komitmen, dan komunitas.

Belas Kasihan melalui Kesatuan Rohani

Orang-orang Kristen Yahudi di dekat Yerusalem berada di tepi jurang
kelaparan. Paulus menyebut mereka sebagai "orang-orang saleh yang
miskin di Yerusalem" (Roma 15:26, versi KSI). Paulus mengumpulkan
persembahan untuk orang miskin, dan ia mendesak pertanggungjawaban
orang Kristen untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dia mencari
kesempatan bagi orang-orang Kristen non-Yahudi untuk menjangkau
dengan belas kasihan serta untuk menunjukkan kesatuan rohani.

Paulus tidak menggerakkan kegiatan amal massal melalui surat, tetapi
dia menekankan secara langsung adanya kebutuhan dana (Roma 15:25-26;
1 Korintus 16:1; 2 Korintus 8:1-9:15). Dalam 2 Korintus 9:6, dia
memperluas seruannya ini sedikit lebih jauh dengan menggambarkan
upah-upah dari memberi -- "Orang yang menabur sedikit, akan menuai
sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak
juga." Paulus menunjukkan bahwa kemurahan hati membawa keuntungan
bagi pemberi karena persembahan bisa berfungsi sebagai penyembahan
kepada Tuhan dan bisa menginspirasi iman orang lain.

Dalam kepemimpinan yang berbelaskasihan, Anda bertindak untuk
kepentingan para pengikut, rekan, serta organisasi Anda. Para
pekerja bersedia bekerja semaksimal mungkin untuk pemimpin seperti
ini. "Kesetiaan serta ketaatan kepada tugas bertumbuh dari
kepercayaan dan pengetahuan akan perlindungan yang datang dari
hubungan kerja." (Winston, 2002).

Para pekerja pun dapat merasakan dukungan untuk mereka. Sebagai
balasannya, mereka terdorong untuk memberikan dukungan penuh mereka.
Pemimpin seperti ini memampukan bawahan-bawahannya untuk memberikan
yang terbaik melalui teladan mereka.

Kesadaran Diri

Kepercayaan diri dan kesadaran diri akan menguatkan pemimpin
Kristen. "Pertama-tama pemimpin perlu menciptakan kedamaian dalam
kehidupannya sebelum dia berhasil menciptakan kedamaian dalam
organisasinya. Seorang pemimpin yang memunyai konflik dengan dirinya
sendiri dapat diibaratkan seperti rumah tangga yang terpecah-pecah."
(Winston, 2002, p. 82). Para pemimpin perlu bersedia mempelajari
nilai-nilai yang mereka anut dengan cermat serta cara mereka yang
bisa menggerakkan organisasi mereka menuju visi yang kukuh.

Para pemimpin yang efektif memimpin dengan sebuah tujuan, bukannya
"berlari seperti orang yang tanpa tujuan" (1 Korintus 9:26-27).
Menurut pandangan Alkitab, hal ini mengatakan bahwa kita hidup untuk
tujuan-Nya, bukan tujuan kita. Sebagai orang-orang Kristen, kita
tahu bahwa kebutuhan kita akan Kristus akan membawa kita melampaui
kegagalan-kegagalan kita sehingga kita dapat bertumbuh semakin
efektif. Saat kita bertumbuh dalam Kristus, kita akan menyadari
kegagalan dan kekurangan kita sebagai manusia.

Dalam Roma 14:1-2, Paulus mengingatkan kita bahwa orang-orang
Kristen tidak perlu saling setuju dalam segala hal berkenaan dengan
kehidupan Kristen. Paulus melanjutkannya dengan menjelaskan
perbedaan antara orang Kristen yang kuat dan lemah. Dalam usahanya
untuk menjelaskan peranan kebhinekaan dalam keseluruhan rencana
Allah tentang penebusan, Paulus memberikan contoh bahwa pemahaman
Injil yang benar membuat orang Kristen yang kuat mengerti bahwa pola
makanan tidak memengaruhi kehidupan rohaninya. (Roma 14:2; Kolose
2:16).

Kebenaran oleh Iman

Paulus menggunakan kata kerja Ibrani "dibenarkan" sebanyak 27 kali,
sebagian besar terdapat dalam kitab Roma dan Galatia. Istilah ini
menggambarkan apa yang terjadi ketika seseorang percaya kepada
Kristus sebagai Juru Selamatnya. Paulus menekankan dua ide yang
berbeda. Pertama, tidak ada orang yang hidup menjalani kehidupan
yang sempurna, "Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan
cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (Roma 3:24)

Yang kedua, walaupun kita semua adalah orang berdosa, Allah akan
menyatakan tidak bersalah kepada setiap orang yang percaya kepada
Yesus. Pemikiran pokok dalam konsep pembenaran adalah bahwa walaupun
kita layak dinyatakan bersalah (Roma 3:9-19), Allah menyatakan kita
benar karena iman kita di dalam Kristus.

Dalam Galatia 2:16, Paulus menggunakan kata kerja "dibenarkan"
sebanyak tiga kali. Sebanyak tiga kali ayat ini menyatakan bahwa
tidak ada yang "dibenarkan" karena melakukan hukum; tiga kali pula
ayat ini menekankan persyaratan mutlak tentang dasar iman kita
kepada Kristus.

Komitmen untuk Bertumbuh

Pemimpin-pemimpin Kristen percaya bahwa manusia memunyai nilai
harkat yang melebihi kontribusi nyata mereka sebagai pekerja. Oleh
sebab itu, para pemimpin Kristen peduli dengan pertumbuhan pribadi,
pekerjaan, serta kerohanian setiap dan semua individu dalam
organisasi masing-masing.

Setiap orang Kristen wajib menjadi yang terbaik bagi Allah. Jika
kepemimpinan dapat dikembangkan, kita perlu mencari cara untuk
mengembangkannya. Dengan melakukannya, kita menyiapkan diri kita
untuk pelayanan yang lebih besar yang mungkin ada di sekitar kita.
Roma 12:1 (versi Ende) memberikan perintah kepada para pemimpin:
"persembahkanlah tubuhmu sebagai kurban hidup, suci dan berkenan
pada Allah. Itulah ibadat rohani yang sesuai dengan budimu." Kata
kerja "persembahkanlah" di sini diikuti dengan 36 kata kerja yang
menerangkan secara rinci apa yang terjadi jika kita menaatinya.

Yang utama, doronglah diri Anda sendiri untuk memimpin, "jika
karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. ...; siapa yang
memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; ...."
(Roma 12:8) Ayat ini merupakan panggilan untuk melangkah dalam
kepemimpinan dengan sepenuh hati. Nasihatilah orang-orang yang
lainnya dengan ajakan yang membangun untuk meraih pencapaian yang
berfaedah.

Membangun Komunitas

1 Korintus 1:10-13 mengawali tema tentang kesatuan dalam pikiran dan
tujuan. "Perpecahan dalam komunitas mengkhianati tujuan dari
penyaliban Kristus; yaitu untuk menyatukan semua orang dalam satu
tubuh, tubuh Kristus." (Matera, 2001, p.10). Para pemimpin perlu
mencari jalan untuk membangun komunitas di antara orang-orang yang
bekerja dalam sebuah institusi.

Maksud Paulus yang sesungguhnya adalah satu tubuh yang bekerja
bersama-sama -- menekankan kesatuan. Akan tetapi, Paulus juga
menggambarkan pelajaran-pelajaran yang dapat dipelajari dari sebuah
komunitas. "Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah
tubuh? ... mata tidak dapat berkata kepada tangan: 'Aku tidak
membutuhkan engkau'...." (1 Korintus 12:19-21) Bisakah kita bertahan
hidup tanpa tangan? Ya, tetapi kita perlu menyesuaikan diri dengan
tangan palsu kita atau menemukan cara lain untuk mengambil
barang-barang. Walaupun tubuh kita tidak akan lengkap tanpa tangan,
namun tubuh masih akan dapat bertahan. Namun sebaliknya, tangan
terkuat pun tidak akan berguna tanpa tubuh. Tangan-tangan memerlukan
sinyal-sinyal yang dikirim dari otak serta makanan yang diberikan
oleh darah.

Intinya adalah tubuh bisa bertahan tanpa tangan, sedangkan tangan
tanpa tubuh adalah sesuatu yang tidak terpikirkan. Gereja-gereja
yang berbeda-beda seperti gereja Korintus menyadari
perbedaan-perbedaan di dalam gerejanya. Inilah sebabnya surat-surat
Paulus menekankan persoalan-persoalan tentang persatuan. Persoalan
yang masih menjadi penyakit gereja-gereja saat ini. Solusinya adalah
menghormati satu sama lain dan melaksanakan petunjuk Yesus Kristus,
sang kepala. (t/Uly)

Daftar Pustaka:
*Matera, Frank J. (2001). Strategies for Preaching Paul.
Collegeville, MN. The Liturgical Press.
*Winston, Bruce (2002). Be a Leader for God's Sake. Regent
University, School of Leadership Studies. Virginia Beach, Virginia.

Diterjemahkan dan disunting seperlunya dari:
Judul asli artikel: Leadership Insights from the Apostle Paul
Nama situs: ArticleBerry
Penulis: Kenneth Rice
Alamat URL: http://leadership.articleberry.com/leadership-insights-from-the-apostle-paul

==================================**==================================
KUTIPAN

Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi.
Dengan sedikit keberanian, kerja sama, dan tekad,
seseorang mampu mengatasi apa pun.
(B. Dodge)

=================================**===================================
INSPIRASI

MEMBERIKAN DORONGAN

Memberikan dorongan kepada seseorang adalah pelayanan yang penting.
Tetapi surat Paulus kepada jemaat di Filipi melukiskan bahwa hal itu
juga mahal.

Meskipun ia harus duduk dalam penjara dan mendapat manfaat dari
persahabatannya dengan Timotius, Paulus berencana mengirim Timotius
kepada jemaat di Filipi untuk melayani dan mengetahui keadaan
mereka. Ia memilih Timotius karena yang lain berpaling pada diri
sendiri, bukannya pada Kristus (2:21). Kabar baik dari Timotius akan
memberi dorongan kepada Paulus (ayat 19).

Epafroditus juga adalah orang yang memberi semangat tanpa memikirkan
diri sendiri. Ia adalah wakil dari gereja Filipi. Ia sakit dan
hampir meninggal saat diutus untuk menjenguk dan membantu Paulus.
Kekuatirannya yang paling besar bukanlah pada penyakitnya, melainkan
bahwa gerejanya telah mendengar tentang hal itu dan ia tidak ingin
mereka tertekan (ayat 26).

Kita melihat dalam diri Paulus, Timotius, dan Epafroditus suatu
rahasia tentang pemberian dorongan yang sebenarnya -- memberikan
diri tanpa mengasihani diri. Di sini jelas bahwa rahasia-Nya ialah
mengesampingkan diri sendiri.

Apakah Anda ingin menjadi orang Kristen yang memberikan dorongan
kepada orang lain? Ingat, sumber utama dari dorongan bukanlah
orang-orang, melainkan Allah. Datanglah kepada-Nya untuk mendapatkan
dorongan baru, kemudian pergilah dan berilah dorongan kepada orang
lain.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama publikasi: e-RH
Penulis: JEY
Alamat: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/1998/02/24/

======================================================================
JELAJAH SITUS

DOMINION MINISTRIES ALIVE: MENINGKATKAN KETERAMPILAN KEPEMIMPINAN
UNTUK MEMIMPIN TUBUH KRISTUS
< http://www.dominionministriesalive.org/ >

Pemimpin bukanlah orang yang hanya bisa memberi perintah. Pemimpin
adalah seorang yang harus bisa bertindak dan memberi teladan yang
baik bagi mereka yang dipimpinnya. Lebih-lebih pemimpin Kristen. Dia
harus hidup dan memimpin dengan standar yang benar sesuai Alkitab.

Situs berbahasa Inggris ini menawarkan banyak keuntungan bagi para
penggunanya. Pengunjung tidak akan direpotkan dengan berbagai fitur
dan menu-menu yang rumit.

Program pelatihan yang ditawarkan dalam situs ini ada delapan, namun
dijelaskan secara teori saja. Sementara artikel yang dimiliki antara
lain: "5 Hal yang Dilakukan Pemimpin", "Pemimpin yang Enggan", "Apa
itu Kepemimpinan Spiritual", "Prinsip-Prinsip Perjanjian Baru
Tentang Kepemimpinan", "Pertumbuhan Rohani Para Pemimpin Gereja",
dan beberapa artikel lainnya seputar kepemimpinan. Kunjungi situs
ini untuk menambah wawasan Anda tentang kepemimpinan.

Diulas oleh: Sri Setyawati

_________________________________________________

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar